
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Semangat kolaborasi, refleksi, dan pembentukan karakter generasi muda akan mewarnai panggung seni di Taman Budaya Yogyakarta pada Rabu (13/5/2026) pukul 19.00 WIB melalui pementasan teater kolaboratif bertajuk “Sumur Tanpa Dasar” karya klasik Arifin C. Noer yang dihadirkan oleh SMA Kolese De Britto bersama SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
Dalam pementasan teater yang sarat makna sosial dan kemanusiaan ini, acara juga akan didukung dan dimeriahkan oleh penampilan pembuka dari sekolah-sekolah SMP feeder yang menunjukkan kekhasan serta keunggulan masing-masing dalam merayakan kreativitas dan semangat berkesenian generasi muda.
Pementasan ini tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni, melainkan ruang pembelajaran hidup yang dialogis dan reflektif bagi para murid SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur sendiri maupun siswa dari SMP feeder.
Sebagai sekolah Katolik yang dikelola oleh para imam Jesuit, SMA Kolese De Britto menjadikan teater sebagai salah satu sarana penting untuk membentuk karakter murid yang reflektif, kritis, dan berbelarasa sesuai dengan visi sekolah dalam membentuk pemimpin pengabdi yang Pancasilais melalui pedagogi Ignatian.
Sementara itu, SMA Pangudi Luhur Yogyakarta sebagai institusi pendidikan Katolik yang menekankan nilai humanisme Kristiani juga mengajak para muridnya untuk tidak hanya mengasah kreativitas melalui kegiatan teater, tetapi juga memahami realitas kehidupan secara lebih mendalam dan manusiawi.
Kolaborasi kedua sekolah ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan di era modern tidak dapat berjalan secara terpisah, sehingga teater hadir sebagai ruang kontemplatif di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya instan untuk mengajak generasi muda berhenti sejenak, mendengarkan, dan merenungkan makna hidup.
Lakon “Sumur Tanpa Dasar” dipilih karena relevansinya yang kuat dengan kondisi kehidupan masa kini dengan mengangkat tema-tema tentang kekuasaan, keserakahan, manipulasi, serta kehampaan eksistensial manusia.
Melalui simbol sumur tanpa dasar tersebut, penonton diajak menyelami sisi terdalam kemanusiaan tentang ambisi yang tak pernah usai dan pencarian makna yang kerap berujung pada kekosongan batin.
Dalam penggarapannya, pementasan ini tidak hanya menampilkan kritik sosial, tetapi juga menghadirkan pengalaman reflektif yang menyentuh kesadaran personal penonton melalui pendekatan artistik yang menonjolkan kontras antara realitas luar dan pergulatan batin manusia.
Seluruh proses kreatif ini melibatkan murid dari ekstrakurikuler teater kedua sekolah yang menjalani rangkaian latihan intensif mulai dari perencanaan produksi hingga eksplorasi karakter dengan didampingi oleh guru pembimbing serta praktisi teater berpengalaman.
Melalui kolaborasi ini, para murid tidak hanya belajar tentang seni peran, tetapi juga mengembangkan kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap keberagaman sebagai bukti bahwa pendidikan seni dapat menjadi medium efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang utuh.
Lebih dari itu, pertunjukan ini diharapkan mampu menjadi ruang refleksi bagi masyarakat luas untuk melihat kembali realitas kehidupan tentang ambisi, kepemilikan, dan kehampaan yang sering kali tersembunyi di balik kemapanan yang tampak.
Pementasan teater kolaboratif ini menjadi simbol bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang hidup, dialogis, dan transformatif.
Dengan semangat kebersamaan dan pencarian makna, SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya layak ditonton, tetapi juga direnungkan.
Laporan: Severinus | Editor: Arya