Ubah Sosok Individualis Kembali Jadi Makhluk Sosial

pranusa.id October 24, 2019

(Gambar: WordPress.com)

 

PRANUSA.ID — Sebagai makhluk sosial, manusia mestinya saling berelasi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, laju arus globalisasi yang tak dapat dibendung telah mengubah hakikat sebagian besar manusia sebagai makhluk sosial menjadi makhluk individualis.

Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang semakin pesat membawa diri seseorang hingga tahap ketergantungan sehingga ditakutkan akan mengalami kondisi hyper reality.

Salah satu akibat dari kondisi tersebut adalah kecenderungan seseorang menjadi makhluk apatis sosial. Dalam kehidupan nyata, hal tersebut ditunjukkan lewat banyaknya pengguna media sosial yang jarang bertegur sapa dan lebih memilih melakukannya via chat. Alasannya karena merasa lebih nyaman berkomunikasi lewat tulisan di media sosial.

Selain itu, tingkat kepedulian manusia terhadap apa yang terjadi di sekitar akan sangat menurun. Hal ini disebabkan media sosial, game, dan aplikasi menarik lainnya telah menawarkan ragam fitur menarik yang membuat penggunanya cenderung terjebak dalam dunianya sendiri dan mengalami keinginan bermain terus yang disebut ketergantungan.

Akibat-akibat buruk tersebut membuat kita berasumsi bahwa teknologi merupakan senjata mematikan apabila penggunaannya tak pernah dibatasi. Pemakaian teknologi tanpa adanya penyaringan yang tepat akan memperparah rusaknya relasi dalam masyarakat. Sebab hal itu membuat mereka memilih menutup mata dan telinga pada orang-orang yang membutuhkan pertolongan mereka, dan justru lebih memprioritaskan kenaikan popularitas mereka.

Contoh paling nyata adalah ketika kita justru mendokumentasikan orang lain yang sedang tertimpa musibah, misalkan mengalami kecelakaan lalu lintas. Bukannya memberi pertolongan kepada mereka, kita justru mendokumentasikannya terlebih dahulu dengan tujuan utama menaikkan popularitas diri.

Rasa-rasanya semangat kepedulian yang dulu begitu semarak, kini kian menurun. Padahal, semangat membangun relasi melalui media sosial sebenarnya merupakan hal positif bagi kita karena menuai banyak manfaat, salah satunya ketika kita telah beranjak dewasa dan mulai memasuki dunia bekerja.

Dengan menjadi manusia yang lebih peduli, kita juga menjadi manusia yang tak sibuk mengurusi hidup diri kita sendiri, namun turut membantu dan membangun orang lain untuk menjadi semakin maju dan berkarakter.

Oleh karena itu, penting bagi kita membatasi waktu penggunaan media sosial sehingga tidak merusak nilai kepedulian kita terhadap orang lain dan tidak mengubah sosok manusia yang hakikatnya hidup berkelompok menjadi individu dalam dunianya sendiri.

 

 

Penulis: Cornelia

 

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…
Atasi Bencana Gempa Flores, Pemprov NTT Kelola Dana Bantuan Rp4,35 Miliar dan Kucurkan Logistik
ENDE, PRANUSA.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan…
Bank NTT Cabang Ende Salurkan 100 Paket Sembako dan Terpal untuk Korban Gempa Flores
ENDE, PRANUSA.ID — Gelombang kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana gempa…
Peringati HUT ke-78 dan Menuju Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto Resmi Buka PSB TA 2027/2028
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese…