Sebanyak 6 Desa di Kabupaten Ketapang Dilanda Banjir | Pranusa.ID

Sebanyak 6 Desa di Kabupaten Ketapang Dilanda Banjir


Ilustrasi banjir.

PRANUSA.ID— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang melaporkan sebanyak 16.811 jiwa dari 4.679 KK warga Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terkena banjir dengan Tinggi Muka Air antara 15 hingga 120 sentimeter pada Sabtu (12/2) pukul 01.00 waktu setempat.

Banjir yang merendam enam desa itu dilaporkan terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi melanda wilayah tersebut.

“Adapun desa yang terdampak adalah Desa Balai Pinang, Desa Kualan Hilir, Desa Kualan Tengah, Desa Semandang Kiri, Desa Semandang Hulu, dan Desa Botuh Bosi. Tercatat kurang lebih 2.228 unit rumah terdampak banjir tersebut,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Senin (14/2/2022).

Di samping itu, Abdul menambahkan setidaknya sebanyak 1 unit fasilitas pendidikan dan 12 unit fasilitas umum ikut terkena dampak banjir. Meskipun demikian, tidak ada laporan warga mengungsi akibat kejadian tersebut.

Abdul pun memaparkan bahwa saat ini BPBD Kabupaten Ketapang telah berkoordinasi dengan perangkat desa, TNI/Polri, dan relawan setempat untuk melakukan kaji cepat dan pendataan kemungkinan wilayah terdampak lainnya.

“Kondisi terkini di lapangan terpantau banjir mulai berangsur surut. BPBD setempat masih terus melakukan monitoring cuaca serta mengimbau masyarakat untuk waspada apabila ada potensi banjir susulan,” ujarnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi peringatan dini cuaca di wilayah Kalimantan Barat hingga Kamis (17/2) berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang. Sebelumnya BMKG juga menyatakan puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Februari 2022.

Menanggapi adanya prakiraan cuaca dan peringatan dini tersebut, BNPB mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan tahun 2022.

“Langkah-langkah mitigasi dan pencagahan yang dapat dilakukan di antaranya dengan memantau Daerah Aliran Sungai (DAS), pembersihan aliran air dari sampah maupun material lain, hingga memantau debit air sungai saat terjadi hujan lebat,” ujarnya.

Penulis: Bagas R.

Editor: Jessica C. 

Berita Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Top