Realisasi Meleset dari Ekspektasi, Menkeu Soroti Hambatan Pemulihan Ekonomi

pranusa.id January 16, 2026

Purbaya Yudhi Sadewa. (FOTO: LPS)

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa laju pemulihan ekonomi nasional berjalan lebih lambat dari perkiraan awal pemerintah. Hal ini disampaikannya saat mengevaluasi kinerja ekonomi pasca-pelantikannya sebagai bendahara negara pada September 2025 lalu.

Purbaya mengungkapkan adanya kesenjangan antara ekspektasi kebijakan dengan realitas di lapangan. Awalnya, ia meyakini perubahan kebijakan yang ditempuh pemerintah akan memberikan dampak perbaikan yang cepat, mengingat ruang fiskal yang dinilai masih tersedia. Namun, implementasi di lapangan menghadapi sejumlah hambatan struktural.

“Kalau kita lihat Agustus-September (kondisi ekonomi) kan turun ke level rendah sekali. Kita tahu kalau tidak dibalik, stabilitas sosial politik akan terganggu,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Kendala Likuiditas dan Koordinasi

Salah satu sorotan utama Menkeu adalah efektivitas kebijakan injeksi likuiditas sebesar Rp200 triliun yang sempat tidak berjalan optimal. Menurut perhitungannya, dana tersebut seharusnya mampu mendorong pertumbuhan uang primer (base money) hingga 13 persen dan memacu pertumbuhan kredit hingga dua digit pada akhir tahun.

Namun, realisasinya terkendala oleh penyerapan yang tertunda dan isu komunikasi kebijakan. Purbaya menyebut adanya indikasi “miskomunikasi” atau sinyal kebijakan yang tidak langsung direspons oleh sektor terkait, sehingga penyerapan likuiditas baru terjadi secara bertahap.

“Hitungan saya Rp 200 triliun itu menimbulkan pertumbuhan uang M0 sekitar 13 persen. Harusnya kredit di akhir tahun tumbuh double digit juga. Tapi karena mungkin ada miskomunikasi, atau sinyal saya tidak diikuti, penyerapan baru mulai bertahap di minggu-minggu berikutnya,” jelasnya.

Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter (Bank Indonesia) terus diperkuat untuk mencari keseimbangan kebijakan yang efektif.

Ia menilai kondisi pasar saat ini mulai bergerak ke arah yang lebih stabil dan aman. Sinyal pemulihan tercepat terlihat di sektor keuangan, di mana pasar modal dan obligasi menunjukkan respons positif lebih awal dibandingkan sektor perbankan.

“Pasar modal dan obligasi biasanya merespons lebih awal dibandingkan sektor perbankan,” pungkasnya.

Laporan: Severinus | Editor: Arya

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Bedah Buku “Legislative Inaction”: Menyoroti Lemahnya Peran Legislatif di Indonesia
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Social Movement Institute (SMI) menggelar kegiatan bedah…
Kesaksian Dosen di Sidang MK: Gaji Pokok Di Bawah UMK, Hingga Terpaksa Jualan di Car Free Day
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kisah memilukan diungkapkan oleh Imam Ahmad, seorang…
Ketua Komisi VIII DPR RI Buka Peluang RUU Pidana LGBT, Sebut Perilaku Menyimpang sebagai Ancaman Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID – Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang…
Aksi “Ibu Berisik” di Bundaran UGM: Suarakan Persoalan Inflasi hingga Pajak Mencekik
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi damai dan…
Ribuan Pelayat Tuntut Balas Dendam ke AS dan Israel Atas Kematian Ayatollah Ali Khamenei
TEHERAN, PRANUSA.ID – Ribuan pelayat memadati upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi…