Setelah Nikel, Jokowi Juga akan Hentikan Ekspor Bauksit Mentah ke Eropa

pranusa.id November 19, 2021

FOTO: Presiden Joko Widodo (Jokowi).

PRANUSA.ID– Saat pertemuan Group of Twenty (G20) di Roma Oktober lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa beberapa negara banyak menyampaikan opininya mengenai kebijakan pemerintah untuk mengurangi ekspor nikel.

Menjawab opini tersebut, Jokowi menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong program hilirisasi industri dengan mengurangi ekspor bahan mentah atau raw material. Menurutnya, kebijakan tersebut diambil guna meningkatkan nilai tambah di sektor industri.

“Kita ingin nilai tambah, kita ingin added value, kita ingin ciptakan lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya dan itu sekarang mulai disadari oleh negara-negara lain,” kata Jokowi saat berpidato dalam acara Kompas 100 CEO Forum 2021 di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, (18/11/2021).

Jokowi pun kemudian menawarkan opsi untuk melakukan kerja sama barang setengah jadi atau barang jadi. Sehingga Indonesia tidak perlu lagi mengekspor bahan mentah ke depan.

“Kerja sama setengah jadi di Indonesia enggak apa-apa, nanti setengah jadi dikirim ke negaramu jadikan barang jadi, enggak apa-apa kok, kita terbuka. Tapi bikin di sini, investasi di sini. Jadi kita tidak menutup diri kok, kita terbuka. Tapi kalau kita suruh kirim bahan mentah terus, ndak, ndak, ndak. Jangan berpikir Indonesia akan kirim bahan mentah,” tambahnya.

“Pilihannya hanya itu saja. Silakan mau investasi sendiri bisa, mau dengan swasta silakan, mau dengan BUMN silakan, kita terbuka,” lanjutnya.

Tidak hanya berhenti pada nikel, Indonesia pun akan menghentikan ekspor bahan mentah lainnya. Jokowi menuturkan, ekspor mentah bauksit akan dihentikan tahun depan.

“Tahun depan mungkin bisa stop bauksit. Kalau smelter kita siap, stop bauksit. Sehingga kita membuka lapangan kerja, hilirasi, industrialisasi di negara kita,” terang Jokowi.

Setelah bauksit, pemerintah juga akan menghentikan ekspor bahan mentah tembaga. Hal itu dilakukan setelah pabrik smelter di Gresik siap beroperasi.

Penghentian tersebut akan meningkatkan nilai tambah di Indonesia. Termasuk juga peningkatan investasi dan pembukaan lapangan kerja.

Selain hilirisasi dan industrialisasi, Jokowi juga menegaskan pentingnya pengintegrasian bahan mentah. Apabila nanti terintegrasi, ia meyakini Indonesia akan mampu membuat barang jadi dengan bahan mentah milik sendiri.

“Mau mobil listrik, electric vehicle (EV) semuanya dari kita, dan barang-barang yang lainnya. Rare earth itu untuk semikonduktor. Semuanya dari sini, mau tidak mau orang akan datang untuk membangun,” pungkasnya.

 

Laporan: Bagas R

Editor: Jessica C. Ivanny

f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Pesan Natalius Pigai untuk Warga Papua: Boleh Tuntut Kesejahteraan, Asal Tidak Minta Merdeka
NABIRE, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Kritik Kesejahteraan Pascakemerdekaan, Festival Bantal Galang Donasi Alat Tidur bagi Buruh Gendong Beringharjo
SLEMAN, PRANUSA.ID — Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik…
Dinas Sosial Kota Yogyakarta Gelar Ziarah Edukatif Pekan “Jejak Patriot” bagi Pelajar
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Dinas Sosial Kota Yogyakarta menggelar kegiatan ziarah…
Sinergi TNI-Polri dan Forkopimda Ende Salurkan 725 Paket Bansos Presiden untuk Korban Gempa
ENDE, PRANUSA.ID — Sebagai wujud kepedulian negara di tengah masyarakat…
81 Tahun Indonesia: Merdeka Sejati atau sekadar “Merdeka-Merdekaan”?
KOLOM— Pada 17 Agustus 2026, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan…