Kecam Penangkapan Presiden Venezuela, China Tuntut Pembebasan Segera

pranusa.id January 7, 2026

FOTO: Bendera nasional Tiongkok terlihat di Beijing, Tiongkok, 29 April 2020. REUTERS/Thomas Peter

BEIJING – Pemerintah China melontarkan kecaman keras terhadap tindakan Amerika Serikat (AS) yang melakukan operasi militer di Caracas dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara lain dan hukum internasional.

Dalam keterangan resminya, Mao Ning menegaskan bahwa AS telah bertindak sepihak tanpa mengindahkan norma-norma diplomatik global.

Ia menuntut agar Washington segera menghentikan intervensi militer dan membebaskan para tahanan politik tersebut.

“China menyerukan kepada AS untuk menjamin keselamatan pribadi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, membebaskan mereka segera, menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela, dan menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi,” tegas Mao Ning, Selasa (7/1/2026).

Pemerintah China menilai operasi militer yang dilakukan AS pada Sabtu (3/1/2026) lalu, yang diklaim oleh Presiden AS Donald Trump sebagai langkah pemberantasan narkoterorisme, sebagai tindakan arogan yang mengabaikan status Maduro sebagai kepala negara yang sah. Mao juga menyoroti proses peradilan di New York yang dinilainya tidak sah.

“AS telah mengabaikan keprihatinan serius komunitas internasional dan secara sewenang-wenang menginjak-injak kedaulatan, keamanan, serta hak dan kepentingan Venezuela yang sah. China dengan tegas menentang hal ini,” ujar Mao.

Selain mengecam penangkapan tersebut, Beijing menyatakan dukungannya terhadap Delcy Rodriguez yang kini dilantik sebagai presiden sementara Venezuela untuk mengisi kekosongan kekuasaan. China menekankan pentingnya menjaga stabilitas di kawasan tersebut dan mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah konkret.

“Kami mendukung Dewan Keamanan PBB untuk menjalankan tanggung jawab utamanya dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional,” tambah Mao.

Kecaman ini memperpanjang daftar reaksi global atas insiden tersebut, di mana Rusia dan Korea Utara sebelumnya juga telah mengeluarkan pernyataan serupa yang mengutuk tindakan AS sebagai bentuk “agresi bersenjata” dan “pelanggaran nyata terhadap hukum internasional”.

Laporan: Severinus | Editor: Kristoforus

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…