Krisis Keuangan Mengancam WHO Setelah AS Tarik Diri dan Hentikan Kontribusi

pranusa.id January 25, 2026

FOTO: Bendera Amerika Serikat

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) secara resmi memutuskan untuk menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebuah langkah drastis yang memicu kekhawatiran luas terhadap masa depan tata kelola kesehatan internasional.

Keputusan ini diambil setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menilai badan kesehatan PBB tersebut gagal menjalankan peran strategisnya secara efektif saat pandemi Covid-19 melanda dunia.

Dalam pernyataan bersama Departemen Kesehatan dan Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu (24/1/2026), pemerintah menegaskan hanya akan menjalin komunikasi terbatas dengan WHO untuk menyelesaikan proses administratif penarikan diri.

Seorang pejabat senior kesehatan AS menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki rencana untuk kembali bergabung atau bahkan berpartisipasi sebagai pengamat di masa depan.

“Ke depan, AS berencana bekerja langsung dengan negara lain, bukan melalui organisasi internasional, dalam pengawasan penyakit dan prioritas kesehatan publik lainnya,” ujar pejabat tersebut.

Langkah penarikan diri ini sebenarnya telah diumumkan sejak awal masa jabatan kedua Presiden Trump pada tahun 2025 melalui sebuah perintah eksekutif.

Secara hukum, AS diwajibkan memberikan pemberitahuan satu tahun sebelum keluar dan melunasi tunggakan iuran yang diperkirakan mencapai US$260 juta, namun pejabat AS membantah hal itu sebagai syarat mutlak.

“Rakyat Amerika telah membayar lebih dari cukup,” tegas juru bicara Departemen Luar Negeri AS dalam keterangan tertulisnya.

Simbol berakhirnya hubungan kedua pihak terlihat dengan diturunkannya bendera Amerika Serikat dari kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss, pada Kamis (22/1/2026).

Dampak dari keputusan ini mulai dirasakan oleh WHO yang kini menghadapi krisis keuangan serius, mengingat AS selama ini menyumbang sekitar 18 persen dari total pendanaan organisasi.

Akibat hilangnya penyandang dana terbesar, WHO dikabarkan terpaksa memangkas separuh tim manajemen dan mengurangi skala operasionalnya secara signifikan.

Pakar kesehatan global memperingatkan bahwa mundurnya AS berpotensi melemahkan sistem deteksi dan respons dunia terhadap ancaman wabah penyakit di masa mendatang.

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…