
JAKARTA, PRANUSA.ID – Televisi nasional Iran, Channel One, menyiarkan pesan belasungkawa berdurasi sekitar lima menit dari Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Melalui unggahan di akun Instagram @iraninindonesia pada Selasa (7/7/2026), Kedutaan Besar Iran di Jakarta mengonfirmasi bahwa tayangan ucapan duka tersebut telah dilengkapi dengan takarir (subtitle) berbahasa Persia.
“Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Yang Mulia Ibu Megawati Soekarnoputri, menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei kepada Pemerintah Republik Islam Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Pesan tersebut disiarkan oleh Chanel One Televisi Iran dengan subtitle bahasa Persia,” demikian pernyataan resmi Kedubes Iran.
Dalam video tersebut, Megawati secara khusus memperkenalkan dirinya sebagai Presiden ke-5 RI, Ketua Umum PDIP, sekaligus putri dari Proklamator RI Soekarno.
Ia memandang wafatnya Khamenei bukan sekadar hilangnya sosok pemimpin agama atau politik, melainkan kehilangan besar bagi masyarakat dunia yang peduli pada nilai keadilan, kedaulatan nasional, dan kemanusiaan. Megawati juga menyoroti adanya benang merah antara pemikiran Khamenei dengan semangat perjuangan sang ayah, Bung Karno.
“Dalam diri beliau, saya melihat gema perjuangan yang pernah dirintis oleh ayahanda saya, Bung Karno. Yang Mulia Ali Khomenei sejak muda, beliau telah mengenal dan mengagumi serta membaca pidato dan pemikiran Bung Karno,” ucap Megawati.
“Tidak mengherankan jika beliau ikut merumuskan jalan bangsa Iran sebagai sebuah sintesis antara agama, kebangsaan dan keadilan sosial, yang juga mencita-citakan tata dunia yang bebas dari belenggu imperialisme dan kolonialisme,” lanjutnya.
Megawati turut mengenang kembali momen kunjungan resminya ke Tehran pada tahun 2004 silam. Saat bertatap muka langsung, ia menangkap kharisma yang kuat sekaligus keteduhan dari sosok Pemimpin Tertinggi Iran tersebut.
“Beliau adalah seorang ulama yang lembut namun teguh memegang prinsip, sekaligus seorang negarawan yang peka terhadap derita bangsanya,” urai Megawati.
Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei sendiri baru bisa diselenggarakan secara besar-besaran setelah lebih dari empat bulan pasca-kematiannya pada 28 Februari 2026 lalu. Penundaan ini terjadi akibat kondisi politik dan keamanan Iran yang sempat tidak kondusif menyusul ketegangan konflik dengan Amerika Serikat.
Jenazah Khamenei dijadwalkan dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, tepatnya di Kompleks Makam Imam Reza pada hari ini, Kamis (9/7/2026).
Di sisi lain, apresiasi dari media Iran terhadap pesan Megawati ini muncul di tengah kritik publik terhadap respons Pemerintah Indonesia yang dinilai lamban. Setelah awalnya hanya berencana mendelegasikan duta besar, pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengutus Menteri Luar Negeri Sugiono dan Ketua MPR Ahmad Muzani.
Menanggapi rencana kedatangan utusan resmi tersebut, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan pihak Iran menyambut baik namun masih harus mencocokkan jadwal karena sebagian besar rangkaian upacara untuk delegasi asing telah rampung.
“Kami sedang menunggu situasi yang tepat untuk mengkonfirmasi kunjungan delegasi Indonesia ke Iran dan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Pemimpin Tertinggi Iran,” kata Dubes Boroujerdi di Jakarta.
Laporan: Hendri | Editor: Arya