Tingkatkan Literasi Pemuda, Jakal Book Club Gelar Sesi Membaca dan Diskusi di Yogyakarta

pranusa.id July 9, 2026

YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Guna meningkatkan budaya literasi di kalangan generasi muda, Jakal Book Club menyelenggarakan kegiatan membaca dan diskusi buku di Multitude Book, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).

Komunitas baca ini merupakan hasil inisiasi dan kolaborasi antara pihak Multitude Book dengan penerbit Semut Api, yang bertujuan untuk menyediakan wadah interaksi bagi para penikmat literatur di kota pelajar tersebut.

Acara yang dimulai pada pukul 17.00 WIB ini dibuka oleh perwakilan Multitude Book, Aldino. Kegiatan diawali dengan sesi membaca hening selama 45 menit, di mana enam peserta yang hadir dipersilakan membaca buku bawaan masing-masing dalam suasana santai.

Memasuki sesi diskusi, para peserta secara bergantian memaparkan intisari dari buku yang mereka baca. Beragam genre dan topik mewarnai jalannya diskusi sore itu.

Salah satu buku yang dibedah adalah karya Sapardi Djoko Damono bertajuk Tirani Demokrasi. Buku ini memantik diskusi mengenai praktik demokrasi semu, fenomena pembagian kekuasaan, hingga bayang-bayang oligarki dalam perpolitikan Indonesia.

Diskusi kemudian merambah pada tinjauan sosiologis dan historis melalui buku Punk Kok Muslim yang mengkaji subkultur Punk melalui kacamata masyarakat Islam di Indonesia, serta kajian ideologis dalam buku Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian.

Topik sejarah turut menjadi sorotan saat salah seorang peserta membagikan pengalamannya membaca Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan. Ulasan ini meluas pada kisah penyintas tragedi 1965 bernama Katri, yang mengalami penahanan dan penyiksaan di Kamp Plantungan, sebuah fasilitas eks-rumah sakit kusta yang dialihfungsikan menjadi penjara khusus tapol wanita pada masa Orde Baru.

Di luar tema sosial-politik, peserta lain turut mengulas buku bernuansa komedi Skripshit karya Alit Susanto yang mengangkat realitas jenaka mahasiswa tingkat akhir. Sesi ini ditutup dengan ulasan novel terjemahan Korea Selatan, Things Left Behind, yang mengeksplorasi kompleksitas emosi manusia melalui profesi pembersih tempat kejadian kematian.

Kegiatan diskusi dan berbagi wawasan ini resmi ditutup pada pukul 19.30 WIB. Pihak penyelenggara berharap agenda literasi semacam ini dapat dilaksanakan secara rutin guna memperluas jejaring, mempertajam dialektika, dan menjaga nalar kritis generasi muda.

Laporan: Angga Nugroho | Editor: Arya

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Menuju Dasawindu: Ketika Sekolah Menjadi Ruang Bertumbuh Bersama
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID– Memasuki usia ke-80 tahun, SMA Kolese De Britto…
UEFA Ancam Lengserkan Gianni Infantino dari Presiden FIFA Lewat Mosi Tidak Percaya
JAKARTA, PRANUSA.ID — Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini menghadapi tekanan…
Survei LKPI: Tingkat Kepuasan Publik terhadap Kinerja Presiden Prabowo pada Semester I 2026 Tembus 79,3 Persen
JAKARTA, PRANUSA.ID — Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo…
Di Tengah Ketidakpastian Global, Pembiayaan Baru Adira Finance Tumbuh 18 Persen pada Semester I 2026
JAKARTA, PRANUSA.ID — Di tengah tingginya ketidakpastian perekonomian global akibat…
Malam yang Menyatukan Budaya, Seni, dan Persaudaraan di De Britto
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID– Di bawah cahaya lampu yang hangat dan iringan…