
SURABAYA, PRANUSA.ID – Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf melontarkan kritik pedas terhadap segelintir kandidat yang mencoba membonceng nama Presiden Prabowo Subianto demi memenangkan kursi kepemimpinan dalam Muktamar Nahdlatul Ulama Ke-35.
Irfan menegaskan bahwa Presiden Prabowo sama sekali tidak berniat mengotori indepedensi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut dengan intervensi politik.
“Poros Istana itu tidak ada, Presiden Prabowo itu sangat menghormati NU, sehingga beliau tidak akan ikut cawe-cawe”, tegas Irfan saat memberikan keterangan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Kamis (2/7/2026).
Irfan menyebut segala klaim dukungan dari pihak Istana hanyalah manuver murahan untuk mengintimidasi lawan atau sekadar mendongkrak citra diri.
Ia menantang para kandidat untuk membuktikan kapasitas diri secara objektif tanpa harus mengandalkan restu palsu dari penguasa.
“Jadi kalau selama ini ada pihak yang mengklaim ‘saya didukung presiden’, tidak ada”, imbuhnya dengan nada tegas.
Di luar isu cawe-cawe Istana, cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini mengaku muak dengan laporan praktik kotor yang sudah mencemari suasana pra-muktamar.
Ia menyoroti gelagat kandidat yang mulai rajin melakukan transaksi gelap dengan kepala daerah dan menebar janji manis demi membeli suara akar rumput.
“Mencari pemimpin tapi tidak seperti sekarang ini, di mana saling menghalalkan segala cara”, ungkap Irfan.
Ia mengingatkan bahwa kursi pimpinan NU bukanlah objek perebutan harta warisan, melainkan tanggung jawab moral yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.
Irfan berharap para kandidat yang merasa dirinya “jauh” dari nilai-nilai Qanun Asasi NU segera sadar sebelum marwah organisasi benar-benar hancur.
“Itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat”, pungkasnya.
Laporan: Severinus | Editor: Arya