Joka Ju, Tradisi Turun-Temurun yang Menguatkan Jati Diri Masyarakat Adat Nggela

pranusa.id July 10, 2026

ENDE, PRANUSA.ID — Komunitas Adat Nggela di Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, sukses menggelar seremoni adat tahunan Joka Ju yang berlangsung selama lima hari, sejak 4 hingga 9 Juli 2026. Ritual warisan leluhur ini menjadi momentum penting bagi masyarakat adat Lio untuk menjaga keseimbangan spiritual serta mempererat ikatan sosial.

Rangkaian ritual Joka Ju dilakukan melalui beberapa tahapan sakral. Dimulai dengan Joka Kowa Goba, yakni prosesi melarung segala penyakit dan hal-hal buruk dari kampung ke laut. Dilanjutkan dengan Dedo sebagai ritual pengusiran roh jahat (nitu pai), serta Wanda Feko Genda, tarian adat sebagai ungkapan syukur atas selesainya satu tahun masa kegiatan adat.

Selama empat hari masa ritual, masyarakat di kampung membatasi aktivitas bertani untuk mengikuti Gawi Leja yang berisi berbagai hiburan rakyat, termasuk Goro Taga yang menyerupai permainan tarik tambang. Barulah pada hari kelima, warga kembali beraktivitas normal seperti biasa.

Pelaksanaan tahun ini menjadi lebih istimewa dengan kehadiran Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, dalam perayaan Ekaristi. Kehadiran beliau menjadi simbol harmonisasi antara nilai-nilai iman Katolik dan pelestarian identitas budaya masyarakat Flores. Selain itu, hadir pula tokoh masyarakat serta pimpinan organisasi masyarakat adat nasional.

Ketua Pengurus Daerah AMAN Flores Tengah, Rio Ata Kita, menekankan bahwa Joka Ju adalah ruang untuk merawat relasi harmonis antara manusia dengan sesama, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

“Nilai-nilai yang terkandung dalam Joka Ju mengajarkan masyarakat untuk hidup dalam harmoni dan keseimbangan. Inilah warisan penting yang terus dijaga oleh masyarakat adat Nggela,” ujar Rio.

Senada dengan hal tersebut, Mosalaki Sao Ria, Aloysius Soka, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mewariskan tradisi ini kepada generasi penerus.

“Joka Ju adalah peninggalan leluhur yang harus tetap hidup. Kami percaya ritual ini membawa berkat serta menjauhkan masyarakat dari berbagai hal buruk yang dapat mengganggu kehidupan bersama,” katanya.

Selain nilai spiritual, daya tarik Joka Ju kini mulai merambah ke sektor pariwisata. Kehadiran wisatawan domestik maupun mancanegara yang menyaksikan langsung kekayaan budaya Nggela membuktikan bahwa tradisi ini memiliki nilai jual tinggi dalam memperkenalkan kekayaan budaya Flores ke kancah global.

Penyelenggaraan ini kembali menegaskan keteguhan Komunitas Adat Nggela dalam memelihara identitas bangsa, sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda akan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Laporan: Marsianus | Editor: Arya

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Dua Prajurit TNI Penyiram Air Keras Batal Dipecat, Menteri Pigai Dorong Pengacara Andrie Yunus Ajukan Kasasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Perkuat Operasi Terpadu Karhutla Kalbar, Kemenhut Gelontorkan DAK Rp5,5 Miliar
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Pemerintah menyiapkan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK)…
Jaga Stabilitas Harga, Bulog Pasok 110 Ribu Ton Beras ke Pasar dan Ritel Modern
JAKARTA, PRANUSA.ID — Perum Bulog menyiapakan pasokan sebanyak 110.000 ton…
AJMAN Kalbar Sebut Penanganan Kabut Asap Harus Berfokus pada Keselamatan dan Aktivitas Warga
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Pengurus Daerah (PD) Asosiasi Jurnalis Masyarakat…
Kabut Asap Meluas dan Lumpuhkan Aktivitas, AMAN Kalbar Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan…