Komisi VIII DPR Dorong Pembentukan Dana Abadi Terpisah untuk Pesantren

pranusa.id November 11, 2025

FOTO: Gedung DPR/MPR.

JAKARTA – Komisi VIII DPR RI mengusulkan inisiatif penting berupa pembentukan Dana Abadi Pesantren. Usulan ini bertujuan memperkuat pengembangan lembaga pendidikan Islam di Tanah Air secara berkelanjutan, dan disampaikan dalam rapat kerja bersama Menteri Agama (Menag) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Menurut Anggota Komisi VIII DPR, Hidayat Nur Wahid, dana abadi merupakan keharusan agar pesantren dapat berkembang secara berkesinambungan, baik yang berkarakteristik tradisional, modern, maupun integratif.

Hidayat menekankan, dukungan anggaran ini harus sejalan dan memperkuat peran Direktorat Jenderal Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditjen Pesantren).

Hidayat menyoroti, pesantren yang kini memiliki tiga jenis karakteristik tersebut harus menerima perhatian yang adil dan proporsional dalam kebijakan anggaran.

Oleh sebab itu, Komisi VIII mendesak agar dana ini dikelola secara independen.

“Dana abadi pesantren perlu dipisahkan dari dana abadi pendidikan. Karena pemisahan itu akan menjamin kejelasan alokasi. Sekaligus juga keadilan bagi lembaga pesantren,” ungkap Hidayat.

Komisi VIII berharap inisiatif dana abadi ini dapat memperkuat mandat Ditjen Pesantren dalam menjalankan Undang-Undang Pesantren.

Usulan ini juga datang di tengah momentum pengangkatan ulama-ulama dari dunia pesantren sebagai pahlawan nasional, seperti Gus Dur dan Syaikhona Kholil Bangkalan.

Menag Jelaskan Fungsi Ditjen Pesantren

Menanggapi komitmen penguatan pesantren, Menteri Agama Nassarudin Umar menjelaskan alasan utama di balik pembentukan Ditjen Pondok Pesantren.

Nassarudin membeberkan bahwa selama ini, pesantren hanya fokus pada fungsi pendidikan di bawah Ditjen Pendidikan Islam, yang berujung pada inefisiensi.

“Keterbatasan ini menciptakan kelumpuhan kebijakan dan mengurangi layanan bagi pesantren,” kata Nassarudin.

Menag memastikan, pembentukan Ditjen Pesantren akan mengembalikan fungsi pesantren secara utuh sesuai amanat Undang-Undang.

Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen memperkuat kapasitas kelembagaan pesantren di seluruh daerah, dengan harapan dapat memperluas peran pesantren dalam tiga dimensi: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Laporan: Hendri | Editor: Kristoforus

a34a305b-0230-41ea-a533-3e9cf5b7fbca
Berita Lainnya
Sawah Warga Dile Tertimbun Proyek Jalan, Anggota DPRD Ende Yosafat Lima Ancam Gelar RDP
ENDE, PRANUSA.ID — Anggota DPRD Kabupaten Ende dari Fraksi Partai…
Jaga ‘Mata Air’ Kaderisasi, HMI Cabang Ende Gelar Basic Training LK 1 di Gedung Baznas
ENDE, PRANUSA.ID — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ende menggelar…
Rapor Hitam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Indonesia Dalam Badai Krisis Nasional
OPINI, PRANUSA.ID— Sudah 2 tahun berselang kekuasaan korup ini memerintah.…
Persoalkan Etika dan Dokumen Pendidikan, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres
JAKARTA, PRANUSA.ID — Ratusan akademisi yang tergabung dalam Forum Guru…
Komisi IV DPR Buka Opsi Masukkan Aturan Terorisme Ekologi Karhutla dalam Revisi UU Kehutanan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Parlemen menyambut positif wacana pemerintah yang ingin…