
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Memperingati satu tahun gerakan perlawanan “Suara Ibu Indonesia”, ratusan massa yang didominasi para ibu menggelar aksi longmarch bertajuk “Jalan Sore Pukul Panci” dari Tugu Golong Gilig menuju Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (8/9/2026).
Aksi yang diwarnai riuh ketukan panci dan pembentangan spanduk protes tersebut digelar sebagai bentuk kekecewaan mendalam atas dampak buruk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus memakan korban jiwa dan kesehatan di berbagai daerah.
Berdasarkan catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), angka korban keracunan MBG melonjak drastis mencapai total 43.838 jiwa yang tersebar di 36 provinsi, mencakup pelajar, guru, hingga peserta posyandu ibu dan balita.
Koordinator aksi, Kalis Mardiasih, menegaskan bahwa fenomena keracunan masal yang menembus belasan ribu korban pada periode 2025 hingga September 2026 ini merupakan bukti pengabaian negara terhadap keselamatan anak-anak dan masukan para pakar.
“Tuntutan kami masih tetap sama ini adalah alarm bahwa negara tidak pernah berpihak kepada anak, tidak pernah mendengarkan kata-kata ilmuwan dan keresahan orang tua,” tegas Kalis di sela-sela orasi di Bundaran UGM.
Ia mendesak pemerintah untuk segera menghentikan program MBG dan merombak total sistem tata kelola yang dinilai sentralistik serta tidak akuntabel.
“Tuntutan kita masih sama ‘Stop MBG’, rombak sistem tata kelola yang bersifat sentralistik, militeristik dan tidak berpihak kepada anak,” kata Kalis.
Selain evaluasi MBG, Kalis menuntut pemerintah untuk mengalihkan prioritas dan alokasi anggaran nasional pada pemulihan korban bencana alam seperti banjir di Aceh, karhutla di Kalimantan, hingga gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang amat mendesak.
Ia menyayangkan adanya pemangkasan dana tanggap bencana yang memaksa para penyintas bencana alam di berbagai daerah kini hanya bergantung pada penggalangan dana swadaya masyarakat.
Aksi damai yang turut diisi dengan orasi lintas komunitas, pembacaan rilis pers bersama “Ibu Berisik”, serta penyediaan pojok baca publik tersebut diakhiri dengan doa bersama pada pukul 17.30 WIB.
Laporan: Angga R.N | Editor: Arya