Tito Minta Keuchik Ambil Alih Pendataan Korban Bencana di Aceh Tamiang

pranusa.id January 2, 2026

FOTO: Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian

ACEH TAMIANG— Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta kepala desa atau keuchik di Aceh mengambil peran sentral dalam pendataan warga terdampak banjir bandang dan longsor.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurai persoalan pendataan yang selama ini menghambat penyaluran bantuan pemerintah kepada masyarakat korban bencana.

Pendataan yang dimaksud mencakup warga yang berhak menerima hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), serta dana tunggu hunian (DTH). Tito menilai mekanisme pendataan konvensional sulit diterapkan secara cepat karena banyak warga kehilangan dokumen kependudukan saat bencana terjadi.

“Kita ambil jalan pintas, keuchik saja yang bertanggung jawab,” ujar Tito saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2025).

Menurut Tito, keuchik merupakan pihak yang paling memahami kondisi riil warganya di lapangan. Karena itu, ia meminta para keuchik menyusun daftar kerusakan rumah warga secara faktual dengan mengklasifikasikan tingkat kerusakan, mulai dari ringan, sedang, hingga berat.

“Keuchik membuat daftar kerusakan ringan, sedang, berat, yang penting betul-betul diyakini itu. Kemudian diserahkan kepada bupati, dan bupati akan dibantu Kapolres serta Kejari untuk meng-crosscheck,” jelas Tito.

Ia menegaskan skema tersebut dirancang agar proses pendataan tidak berlarut-larut sehingga bantuan dapat segera dieksekusi. Pendataan yang cepat, kata Tito, akan berdampak langsung pada percepatan pemindahan pengungsi dari posko darurat ke hunian yang lebih layak.

Berdasarkan perhitungan bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Tito menyebut sekitar 60 persen pengungsi sebenarnya sudah dapat direlokasi apabila data penerima bantuan segera tersedia dan tervalidasi.

Namun hingga saat ini, Tito menilai Aceh masih tertinggal dibandingkan Sumatra Barat dan Sumatra Utara dalam hal kecepatan penyerahan data korban bencana kepada pemerintah pusat.

Ia mengingatkan bahwa data tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tetapi juga menjadi dasar Kementerian Sosial dalam menyalurkan bantuan tunai.

Tito pun menepis anggapan bahwa lambatnya penanganan disebabkan keterbatasan anggaran. Ia menegaskan dana bantuan telah disiapkan pemerintah pusat, sementara hambatan utama justru berada pada kelengkapan dan kecepatan data di lapangan.

“Jangan sampai masyarakat menyalahkan pemerintah karena dianggap tidak cepat, padahal pemerintah menunggu data itu. Uangnya sudah ada. Problemnya hanya satu: data,” pungkas Tito.

Laporan: Judirho | Editor: Kristoforus

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…
Atasi Bencana Gempa Flores, Pemprov NTT Kelola Dana Bantuan Rp4,35 Miliar dan Kucurkan Logistik
ENDE, PRANUSA.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan…
Bank NTT Cabang Ende Salurkan 100 Paket Sembako dan Terpal untuk Korban Gempa Flores
ENDE, PRANUSA.ID — Gelombang kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana gempa…
Peringati HUT ke-78 dan Menuju Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto Resmi Buka PSB TA 2027/2028
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese…