Bupati Landak Minta Kebijakan Khusus Mendagri Soal Belanja Pegawai

pranusa.id April 18, 2026

FOTO: Bupati Landak, Karolin Margret Natasa

LANDAK, PRANUSA.ID – Pemerintah Kabupaten Landak mendesak Kementerian Dalam Negeri untuk memberikan kelonggaran kebijakan terkait membengkaknya porsi anggaran belanja aparatur daerah yang belum mencapai batas aman.

“Kami mohon arahan dan juga mohon kebijakan dari Kementerian Dalam Negeri karena memang belanja pegawai kita masih berada di angka yang belum aman,” kata Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, usai mengikuti rapat evaluasi pada Jumat (17/4/2026).

Tingginya beban pengeluaran daerah tersebut dipastikan bukan akibat kebocoran dana operasional, melainkan murni untuk memenuhi tuntutan pelayanan dasar masyarakat sesuai dengan pedoman efisiensi dari pusat.

“Kita sudah dibedah satu per satu bahwa tidak ada pemborosan di situ, kami juga sudah menjalankan semua arahan dari pemerintah pusat berkaitan dengan efisiensi,” ujarnya.

Pemangkasan ekstrem yang sempat disimulasikan oleh jajaran pejabat daerah ternyata tetap gagal menekan porsi pengeluaran kepegawaian tersebut hingga menyentuh rasio ideal di bawah tiga puluh persen.

“Kalau kita buat simulasi, semua pegawai tidak terima TPP, semua P3K kita pecat, masih belum juga bisa tiga puluh persen,” ungkapnya.

Alih-alih melakukan pemecatan massal demi penghematan anggaran, wilayah tersebut faktanya tengah menghadapi krisis tenaga kependidikan berskala besar yang berisiko melumpuhkan sistem pengajaran di sekolah dasar hingga menengah.

“Sementara dengan posisi hari ini belanja pegawai kita seperti itu, kita masih kekurangan 1.100 guru, bayangkan bagaimana kita bisa menjalankan pelayanan publik kalau aparatur kita tidak memenuhi standar yang ada,” urai Karolin.

Oleh karena itu, rasionalisasi terhadap tunjangan penghasilan menjadi satu-satunya opsi alternatif yang paling rasional demi mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja terhadap ujung tombak pelayanan medis dan pendidikan di daerah tersebut.

“Kalau perlu rasionalisasi berkaitan dengan TPP, honorarium dan sebagainya kami siap melakukan, tapi kalau merumahkan kami akan kesulitan karena ini aparatur yang melayani masyarakat kita, guru, tenaga kesehatan, dan lain sebagainya tentu perlu pertimbangan yang hati-hati dan bijaksana,” tutupnya.

Laporan: Hendri | Editor: Michael

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Dua Prajurit TNI Penyiram Air Keras Batal Dipecat, Menteri Pigai Dorong Pengacara Andrie Yunus Ajukan Kasasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Perkuat Operasi Terpadu Karhutla Kalbar, Kemenhut Gelontorkan DAK Rp5,5 Miliar
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Pemerintah menyiapkan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK)…
Jaga Stabilitas Harga, Bulog Pasok 110 Ribu Ton Beras ke Pasar dan Ritel Modern
JAKARTA, PRANUSA.ID — Perum Bulog menyiapakan pasokan sebanyak 110.000 ton…
AJMAN Kalbar Sebut Penanganan Kabut Asap Harus Berfokus pada Keselamatan dan Aktivitas Warga
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Pengurus Daerah (PD) Asosiasi Jurnalis Masyarakat…
Kabut Asap Meluas dan Lumpuhkan Aktivitas, AMAN Kalbar Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan…