Kemiskinan di Kalbar pada Tahun 2022 Menurun

pranusa.id January 17, 2023

Ilustrasi: Kemiskinan Menurun

PRANUSA.ID– Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat periode September 2011 – September 2022, tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat mengalami penurunan 25,76 ribu orang atau dari 382,27 ribu orang di September 2011 menjadi 356,51 ribu orang pada September 2022.

“Secara persentase dari jumlah penduduk di Kalbar juga terjadi penurunan yakni dari 8,48 persen pada September 2011 menjadi 6,81 persen pada September 2022,” ujar Ketua Tim Kesra dan Hansos BPS Kalbar, Sari Mariani di Pontianak, Senin.

Sementara, untuk jumlah penduduk miskin pada September 2022 sebesar 356,51 ribu orang, meningkat 6,3 ribu orang terhadap Maret 2022 dan meningkat 2,5 ribu orang terhadap September 2021.

Persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2022 sebesar 4,44 persen, naik menjadi 4,63 persen pada September 2022. Sementara persentase penduduk miskin perdesaan pada Maret 2022 sebesar 8,06 persen, naik menjadi 8,10 persen pada September 2022.

“Dibanding Maret 2022, jumlah penduduk miskin September 2022 perkotaan naik sebanyak 4,77 ribu orang (dari 85,04 ribu orang pada Maret 2022 menjadi 89,81 ribu orang pada September 2022. Pada periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan naik sebanyak 1,48 ribu orang dari 265,21 ribu orang pada Maret 2022 menjadi 266,69 ribu orang pada September 2022,” jelas dia.

Adanya kenaikan tingkat kemiskinan pada pada Maret 2022 – September 2022 tidak terlepas dari pengaruh kondisi sosial dan ekonomi di antaranya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2022 sebesar 5,11 persen, meningkat sebesar 0,25 persen poin terhadap TPT Februari 2022 (4,86 persen).

Kemudian Nilai Tukar Petani (NTP) September 2022 mengalami penurunan menjadi 136,05 yang terhadap Maret 2022 sebesar 152,67 dan inflasi umum pada periode Maret 2022-September 2022 (3,70 persen) lebih besar dari pada periode sebelumnya September 2021-Maret 2022 (1,93 persen).

“Kemudian tanggal 3 September 2022 ada kenaikan harga pertalite 30,72 persen, solar 32,04 persen dan pertamax (non subsidi) 16,00,” jelas dia.

ANTARA NEWS

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Bedah Buku “Legislative Inaction”: Menyoroti Lemahnya Peran Legislatif di Indonesia
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Social Movement Institute (SMI) menggelar kegiatan bedah…
Kesaksian Dosen di Sidang MK: Gaji Pokok Di Bawah UMK, Hingga Terpaksa Jualan di Car Free Day
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kisah memilukan diungkapkan oleh Imam Ahmad, seorang…
Ketua Komisi VIII DPR RI Buka Peluang RUU Pidana LGBT, Sebut Perilaku Menyimpang sebagai Ancaman Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID – Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang…
Aksi “Ibu Berisik” di Bundaran UGM: Suarakan Persoalan Inflasi hingga Pajak Mencekik
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID – Komunitas Ibu Berisik menggelar aksi damai dan…
Ribuan Pelayat Tuntut Balas Dendam ke AS dan Israel Atas Kematian Ayatollah Ali Khamenei
TEHERAN, PRANUSA.ID – Ribuan pelayat memadati upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi…