Dua Penyebab Persepsi Publik terhadap Ekonomi Nasional Merosot | Pranusa.ID

Dua Penyebab Persepsi Publik terhadap Ekonomi Nasional Merosot


Ilustrasi: Ekonomi RI merosot.

PRANUSA.ID– Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM Bahlil Lahadalia menanggapi soal hasil survei Indikator Politik Indonesia yang mengungkapkan bahwa persepsi publik terhadap ekonomi nasional menurun setelah harga bahan bakar minyak (BBM) melejit. Dia mengatakan ada dua penyebab yang membuat persepsi itu merosot.

“Pertama, harga bahan pokok dan kedua, lapangan kerja,” ucapnya dalam acara Rilis Survei Nasional yang diselenggarakan oleh Indikator Politik Indonesia secara virtual pada Ahad, 2 Oktober 2022.

Ia mengatakan masalah harga barang pokok adalah perkara yang harus diselesaikan bersama-sama. Presiden Joko Widodo atau Jokowi, kata dia, selalu menyampaikan kepada kepala daerah untuk segera mengantisipasi lonjakan inflasi karena kenaikan harga bahan pokok.

Menurut dia, pemerintah tengah berfokus menjaga stabilisasi permintaan dan penawaran karena inilah yang menjadi salah satu penyebab inflasi. “Ini yang menjadi perhatian kita semua agar bagaimana kita bisa lakukan langkah-langkah komperhensif dan terukur,” ucapnya.

Meski begitu, ia menegaskan urusan untuk menjaga tingkat inflasi dan harga bahan pokok bukan semata dibebankan kepada presiden. Ini, kata Bahlil, adalah tanggung jawab bersama termasuk gubernur, bupati, dan wali kota.

Selanjutnya, penyebab kedua yang menyebabkan persepsi publik turun terhadap ekonomi nasional adalah lapangan kerja. Ia menyebutkan kini ada sekitar 7 juta orang yang sedang mencari lapangan pekerjaan. Sementara itu, angkatan kerja setiap tahun bertambah 2,9 juta.

Adapun pasca-pandemi Covid-19, ada 5 hingga 6 juta orang yang kehilangan pekerjaan. Artinya, ucap Balil, masih ada sekitar 15 juta pencari kerja di Indonesia.

“Siapa yang akan menciptakan lapangan kerja ini, sudah pasti dunia swasta karena ASN lewat TNI, Polri, dan BUMN tidak lebih dari 1 juta per tahun,” katanya.

Adapun hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukan persepsi publik terhadap ekonomi Indonesia turun setelah harga BBM naik. Evaluasi atas sejumlah kondisi umum nasional pun tampak mengalami kemunduran.

“Terutama kondisi ekonomi karena paling dekat atau terkait langsung dengan hajat hidup warga,” tutur Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi.

Burhanuddin mengatakan persepsi ekonomi nasional lebih buruk dibandingkan dengan sebelum kenaikan harga BBM. Tren positif terhadap kondisi perekonomian terhenti dan mendekati situasi pada bulan April lalu ketika terjadi kelangkaan minyak goreng.

Sebanyak 41,7 persen responden menilai, keadaan ekonomi nasional berada di tingkat sedang. Lalu 30,9 persen responden menilai buruk; 18,8 persen menilai baik; 5,3 persen menilai sangat buruk; dan 2,3 persen menilai sangat baik.

Hampir semua responden atau 96 persen di antaranya tahu harga BBM naik karena membengkaknya subsidi. Kemudian, mayoritas warga atau sebanyak 55,6 persen tidak setuju sama sekali dengan kebijakan tersebut dan 32 persen kurang setuju.

Sebaliknya, survei menunjukan kepuasan terhadap kinerja Presiden Jokowi sedikit mengalami kenaikan ketimbang awal September setelah kenaikan harga BBM dari 63 persen ke 67 persen. Populasi survei tersebut adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih pada pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dalam survei itu jumlah sampel sebanyak 1.220 orang. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error–MoE) sekitar 2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Burhanuddin menjelaskan responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). “Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti,” kata dia.

Laporan: Severinus THD

Editor: Jessica C. 

Berita Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Top