Opini: Video Sembilan Belas Detik, Bodo Amat ! | Pranusa.ID

Opini: Video Sembilan Belas Detik, Bodo Amat !


Indra Andrianto kelahiran Bulan Maret 1995 di Kabupaten Bondowoso. Penulis buku #Merawatingat dan Pendidik di Sekolah Internasional JB School, Badung Bali.

“Untuk pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik” Tagline: The Subtle Art of Not Giving A F-ck

Netizen dihebohkan dengan beredarnya video porno berdurasi 19 detik yang pemeran perempuannya dianggap mirip dengan publik figur bernama Gissele Anatasya. Video mengenai hal ini sangat ramai diberitakan dan diperbincangkan di media hingga mampu menggeser sajian berita utama tentang pro-kontra Omnibus Law, aksi serentak mahasiswa, dan bahkan wabah Covid-19 yang masih belum berakhir menjelang akhir tahun ini.

Tidak hanya kalangan rakyat biasa yang menyoroti skandal video mesum yang diduga mirip dengan Gisselle, mulai dari praktisi supranatural hingga pengacara kondang yang top pun juga turut menanggapi video yang berdurasi sembilan belas detik dengan berbagai macam persepsi dan juga analisa untuk mengomentarinya.

Menarik sebenarnya mengenai video tersebut. Bukan karena adegannya yang syur namun tentang masyarakat yang gampang sekali mengalihkan fokusnya pada hal yang sebenarnya tidak memiliki esensi yang jelas namun paling sangat diminati perkembangan kasusnya.

Dalam benak ini bertanya, apa urgensi topik tersebut terhadap masyarakat luas? Tentu penulis rasa, berkaitan dengan moralitas, jika memang terbukti dalam video tersebut seperti yang diduga maka bisa terjerat UU pornografi dengan dasar kelalaian menyimpan video tersebut dan bisa berujung di bui.

Namun, terlalu berlebihan jika semua orang beramai-ramai ikut menilai, mengira-ngira, dan memberikan komentar yang berujung fitnah terkait video tersebut. Penulis jadi ingat sosok Socrates dalam peristiwa ini; Filosof Athena itu pernah mengatakan, jika suatu permasalahan mendapat banyak respon dari orang yang bukan ahlinya, maka akan terjadi suatu kesesatan berpikir dan keliaran persepsi. Yang dimaksud di sini akan melahirkan suatu stigma negatif pada orang bersangkutan yang belum tentu kebenarannya dan tentunya hanya akan menimbulkan kegaduhan yang berlarut-larut tiada henti.

Terkait kasus tersebut cukup diserahkan pada pihak berwajib beserta timnya yang bisa menyelesaikan kasus tersebut karena memang secara tupoksi merekalah yang membidangi kasus itu.

Ketika semua orang berpersepsi secara membabi buta bahkan anehnya sampai ada pemberitaan media terkait mengungkap kebenaran melalui ramal – meramal baik melalui interaksi gaib ataupun penerawangan, penulis rasa sangat tidak perlu. Kecuali memang masalah ini urgensi bagi nasional dan menjadi penentu nasib bagi banyak orang.

Mark Manson “Semua akan baik-baik saja dengan bersikap bodo amat”

Pembaca pasti pernah membaca buku karya Mark Manson tentang The Subtle Art of Not Giving A F-ck atau buku terjemahannya yang berjudul “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” secara subjektifvitas penulis tentu buku itu cukup memberikan suatu makna dan hikmah bagi setiap orang yang membacanya.

Bagaimana sebagai manusia untuk memiliki sikap bodo amat terhadap hal-hal yang seharusnya diabaikan. Kasus video syur ini tentu ada petugas yang akan menangani, tugas kita sebagai masyarakat harus lebih cerdas untuk menyikapi, apalagi hampir setiap media menjadikan video sembilan belas detik tersebut sebagai headline hingga muncul banjir tanggapan.

Dalam buku Mark Manson ada lima hal yang bisa kita petik hikmah dibalik situasi hati ini. Pertama, kita berhak untuk bahagia. Kedua, kita jangan terlalu fokus pada hal-hal yang seharusnya bisa diabaikan. Ketiga, tahu atas apa yang seharusnya layak dipedulikan. Keempat, harusnya kita lebih fokus pada hal yang lebih penting. Kelima, Kita akan menjadi baik-baik saja ketika kita sudah bisa membaca mana hal penting untuk tanggapi atau sebaliknya hal tidak penting yang seharusnya tidak terlalu penting untuk ditanggapi. Diantara lima makna yang dapat dimaknai dalam buku tersebut jika dikaitkan dengan konteks aktual saat ini, video berdurasi sembilan belas detik yang ramai diperbincangkan justru sangat tidak memiliki urgensi yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak, ataupun apabila ditanggapi serius akan apakah berpengaruh atas nasib orang banyak?

Di Amerika pernah terjadi skandal kasus serupa tentang pornografi yaitu atlet bassbal terkenal, siapa yang tidak kenal Tiger Woods, bahkan dirinya lebih populer daripada orang yang diduga mirip dengan video syur 19 detik itu. Namun, masyarakat Paman sam tidak terlalu fokus dalam menanggapi hal tersebut dan lebih menyerahkan pada pihak yang berwenang. Tentunya masyarkat Amerika sudah memahami mana hal penting yang mendesak untuk dipentingkan dan mana hal yang tidak mendesak untuk dipentingkan.

“Saat kita terlalu peduli pada hal-hal yang seharusnya diabaikan, kita menghabiskan banyak waktu untuk lari dari masalah kita daripada berdamai dengan masalah itu sendiri,” – Mark Manson (The Subtle Art of Not Giving A F-ck)

Menjaga Kewarasan Publik

Sebuah seni hidup untuk tetap menjaga waras. Waras dalam artian sehat berpikir pada akal sehat manusia. Dari sekian headline media yang menampilkan berita video berdurasi sembilan belas detik dengan berbagai judul yang sungguh luar biasa wah, hingga mampu menarik minat untuk membaca dan berkomentar yang includenya menimbulkan persepsi ataupun stigma negatif atas apa yang telah dia baca (resiko menimbulkan kekeruhan opini publik).

Media memiliki tugas sebagai media mencerdaskan dan mendidik dalam menyampaikan fakta-fakta, baik berupa data maupun hal lainnya terkait informasi yang akan disampaiakan pada masyarakat. Jangan sampai media berubah tupoksinya dengan hanya mencari viewiers dan sensasi dalam penyampaian informasi. Media dalam konteks penyampaian berita khususnya pemberitaan video sembilan belas detik sangatlah besar pengaruhnya dalam menjaga kewarasan publik.

Kekhawatiran yang penulis maksud penulis disini bahwa media tidak lagi mampu melahirkan empati terhadap peristiwa yang terjadi, hingga opini publik menjadi liar dan sangat tidak terkontrol satu sisi hal tersebut sungguh tidak manusiawi bagi yang tertuduh ataupun yang diduga.

Sebaiknya, kasus tersebut kita serahkan pada petugas yang berwenang dalam menangani hal tersebut, karena jika terlalu berlarut-larut dengan kegaduhan persepsi yang ditimbulkan oleh publik tentang video tersebut.
Tentu sangatlah konyol sekelas negara Indonesia yang berkembang menuju masyarakat maju masih ribut menanggapi video syur bahkan dalam konteks tersebut ada perihal ramal-meramal tentang kebenarannya, untuk apa? Itu tidak penting dan tidak tepat dengan kewenangannya.

Berita Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Top