Petani Sawit Keluhkan Mahalnya Harga Pupuk di Sintang

pranusa.id July 23, 2022

Ilustrasi: Hasil Sawit.

PRANUSA.ID — Petani sawit di Kabupaten Sintang semakin menderita dengan rendahnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit perkilogramnya.

Beban petani semakin berat dengan tingginya harga pupuk non subsidi. Demikian disampaikan anggota DPRD Kabupaten Sintang, Anton Isdianto, Kamis (22/7).

Dia meminta, Pemerintah Kabupaten Sintang segera mencarikan solusi atas penderitaan petani sawit karena anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dan tingginya harga pupuk akhir-akhir ini.

“Saya sebagai wakil rakyat, berharap kepada pemerintah provinsi dan Pemkab Sintang maupun pemerintah pusat untuk mengambil langkah-langkah kebijakan terhadap anjloknya harga sawit di tingkat petani serta harga pupuk yang sangat mahal,” kata Anton.

Informasi awal anjloknya harga TBS dipicu dari kebijakan pemerintah pusat dengan penyetopan ekspor CPO sehingga tanki penampung CPO menjadi menumpuk.

Kemudian meski ekspor CPO dibuka kembali namun belum bisa membuat harga TBS menjadi normal.

Dia mengakui, dalam kegiatan reses di daerah pemilihan dapil tiga kebanyakan masyarakat mengeluhkan soal rendahnya harga beli TBS di tingkat petani.

“Saya berharap persoalan harga TBS yang masih anjlok bisa dicarikan solusi secepatnya oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten. Kasian masyarakat semakin sengsara dengan kondisi seperti ini,” katanya.

Salah satu petani sawit Desa Tempunak Kabupaten Sintang , Erikson, mengatakan, pemerintah harus mengambil langkah agar harga TBS kelapa sawit kembali normal.

“Jangan sampai pemerintah biarkan petani sawit menderita dan menanggung kerugian akibat harga TBS kelapa sawit sangat murah dan harga pupuk yang mahal,” ujarnya.

Dikatakan dia, harga TBS yang sangat murah perkilogramnya membuat rugi petani. Sementara pupuk dan racun rumput harganya mahal.

Anjloknya harga TBS kelapa sawit terjadi setelah Presiden Joko Widodo mencabut larangan ekspor minyak goreng dan minyak kepala sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Seharusnya setelah larangan ekspor tersebut dicabut menurut dia, harga TBS kelapa sawit bisa kembali normal dikisaran Rp3.000.

Kalau harga TBS kelapa sawit tidak segera naik lanjut dia, akan mempengaruhi perekonomian masyarakat petani sawit. Karena beberapa bulan ke depan tidak bisa membeli pupuk. *(ANTARA)

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Atasi Bencana Karhutla Nasional, TNI Kerahkan 14.167 Prajurit Bantu Pemadaman di Lapangan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyiagakan dan mengerahkan…
Kapolri Listyo Sigit Amankan Sejumlah Nama Terduga Pelaku Karhutla di Kalimantan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal…
Dampak Karhutla di Kalbar: Lima Penerbangan dari Pontianak Delay, Satu Pesawat Dialihkan ke Batam
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan…
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…