Potensi Langgar HAM, Koalisi Nilai RPerpres Pelibatan TNI dalam Penanganan Terorisme Berlebihan

pranusa.id May 27, 2020

Foto TNI Indonesia. (Antara/M. Risyal Hidayat)

PRANUSA.ID — Koalisi Masyarakat Sipil menilai Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) terkait rencana keterlibatan TNI dalam penanganan terorisme berlebihan dan berpotensi mengancam kehidupan kehidupan hukum dan HAM di Indonesia.

“Kami menilai pengaturan tentang kewenangan TNI di dalam rancangan peraturan presiden tentang tugas TNI dalam mengatasi terorisme terlalu berlebihan,” kata koalisi masyarakat, Rabu (27/5/2020).

Koalisi Masyarakat Sipil menyoroti beberapa masalah serius yang dapat mengganggu mekanisme criminal justice system di Indonesia.

Pertama, kebijakan tersebut tidak diikuti mekanisme akuntabilitas militer yang jelas untuk tunduk pada sistem peradilan umum sehingga justru memberikan mandat yang sangat luas kepada TNI melalui fungsi penangkalan, penindakan, dan pemulihan.

“Penanganan tindak pidana terorisme oleh TNI kepada warga negara di dalam negeri melalui fungsi penangkalan, penindakan dan pemulihan tidak hanya berbahaya, tapi juga sama saja memberikan cek kosong bagi militer,” kata peneliti Imparsial Husein Ahmad dilansir dari Jawapos.com, Selasa (26/5/2020).

Dengan begitu, RPerpres tersebut justru membuat TNI dapat memiliki kewenangan dalam penegakan hukum, yaitu menindak terorisme secara langsung dan mandiri di dalam negeri. Akibatnya, tugas TNI tidak lagi sesuai dengan hakikat awal pembentukan militer sebagai alat pertahanan negara.

Dalam rancangan tersebut, TNI juga dapat menjalankan operasi intelijen, operasi teritorial, operasi informasi, serta operasi lainnya yang tidak dijelaskan secara rinci. “Peraturan presiden ini tidak memberi penjelasan lebih rinci terkait operasi lainnya,” kata koalisi.

Pemberian mandat dan kewenangan yang sangat luas kepada TNI berujung pada ancaman kehidupan hukum dan HAM, serta berdemokrasi di Indonesia.

“Dengan pasal ini, TNI dapat terlibat dalam penanganan tindak pidana terorisme secara lebih leluasa sehingga berpotensi membahayakan kehidupan HAM di Indonesia,” tulis koalisi. (Cornelia/Pranusa)

TAG: , ,
d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…